Jumat, 13 Mei 2011

Visi, Misi dan Analisa SWOT Perusahaan PT,Holcim Indonesia, TBK

PT. Holcim Indonesia, Tbk.
Analisis SWOT ( Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats )
A. Profil
PT. Holcim Indonesia, Tbk. adalah perusahaan sebuah perusahaan pembuat semen di Indonesia yang sebelumnya bernama PT. Semen Cibinong Tbk. bergantinya nama seiring dengan dikuasainya mayoritas saham perseroan oleh Holcim Ltd., pergantian nama perusahaan dilakukan pada 1 Januari 2006. Pergantian nama ini juga diikuti oleh anak perusahaan perseroan PT Semen Cibinong Tbk yang berganti nama menjadi PT Holcim Indonesia Tbk. mulai tanggal 1 Januari 2005 dan juga PT Trumix Beton menjadi PT Holcim Beton. Tujuan dari perubahan nama itu karena perseroan berkeinginan untuk memberitahukan bahwa perseroan adalah bagian dari grup internasional, yaitu Holcim Ltd. Selain nama, Semen Cibinong juga akan mengganti logo perusahaannya.
PT. Holcim adalah pelopor dan inovator di Indonesia yang bergerak dalam pembuatan semem dan PT. Holcim adalah satu-satunya penyedia yang terintegrasi sembilan berbagai jenis semen, beton dan agregat. Produk-produk yang diproduksi oleh PT. Holcim merupakan produk yang masih berhubungan dengan bahan bangunan, dengan fokus kepada penciptaan semen berkualitas, berupa semen maupun mortar instan, dan perangkat pendukungnya yang umumnya berupa modul-modul blok pengisian semen yang dapat digunakan sebagai pengganti batu bata. PT. Holcim sedang membangun sebuah waralaba yang unik dalam memberikan solusi lengkap untuk membangun perumahan atau rumah dengan harga terjangkau. Untuk itu Holcim melatih lebih dari 3.000 tukang batu, lebih dari 43 pewaralaba dan lebih dari 9.000 outlet ritel di seluruh pulau Jawa.

Visi dan Misi

1. Visi
Menjadi yang terbaik dan paling dihormati berperforma perusahaan Indonesia di industri kami, peringkat di antara yang terbaik di Grup Holcim.

2. Misi
PT Holcim Indonesia Tbk melalui pembuatan dan penjualan semen, beton, agregat dan pengembangan masyarakat, akan memberikan keuntungan secara lestari maksimum kembali kepada para pemegang saham dengan tetap menjaga tugas yang bertanggung jawab perawatan kepada semua pemangku kepentingan.

B. Analisis SWOT
Strengths/Kekuatan
1. Komitmen manajemen PT. Holcim yang ingin menjadikan merek dan produknya sebagai pilihan utama konsumen, maka dari itu manajemen Holcim membuat divisi baru, yaitu Marketing & Branding. Kehadiran divisi ini merupakan bagian dari proses berbenah diri yang dilakukan perusahaan.
2. Strategi bisnis PT. Holcim yaitu competitive advantage diferensiasi (menciptakan inovasi produk maupun jasa yang dibuat berdasarkan hasil survei berkala kebutuhan pasar)
3. Strategi marketing PT. Holcim berusaha membangun pasar melalui Brand Building dengan memasang iklan yang memakan biaya hingga Rp 34,91 milyar pada tahun 2006, atau 9 kali lipat biaya iklan semen Tiga Roda milik Indocement.
4. PT. Holcim dapat mengubah penjualan menjadi kas dalam waktu singkat. PT. Holcim mampu mengubah penjualan menjadi kas dalam waktu 61 hari, lebih cepat dibandingkan dengan Semen Gresik yang 76 hari, dan Indocement 106 hari (Bisnis Indonesia, 26 Maret 2008). Dengan demikian, perputaran uang Holcim lebih baik daripada saingan usahanya sehingga Holcim lebih fleksibel dalam menggunakan dananya.
5. Produk – produk PT. Holcim yang tergolong produk yang belum pernah ada sebelumnya. Misalnya saja rumah tahan gempa, blok-blok modul rumah tahan gempa yang efektif dan hemat biaya pembangunan, dan juga program terbaru yang diluncurkan Holcim, yaitu program Solusi Rumah Holcim.
6. Kerjasama PT. Holcim dengan Politeknik Negeri Jakarta untuk pemberdayaan SDM.
7. Holcim menggunakan server group internal digunakan untuk menghubungkan pabrik-pabrik di dalam negeri, dan bertukar informasi serta mengkoordinir program lintas pabrik Holcim.
Weaknesses/Kelemahan
1. Hutang PT. Holcim yang sangat banyak mengakibatkan PT. Holcim harus mematok harga tinggi agar dapat segera melunasi hutang tersebut. Menurut Bisnis Indonesia edisi 26 Maret 2008, hutang valas Holcim mencapai US$300 juta atau terbesar dibandingkan dengan utang valas emiten semen lainnya. Rasio utang bersih Holcim adalah 91,07%, Indocement 22,18%, dan Semen Gresik 3,8%.
2. Kemampuan jual yang lebih rendah, terutama dalam eksposur penjualan perseroan ke luar Jawa. Hal itu terjadi karena kapasitas produksi PT. Holcim merupakan yang terendah dibandingkan Semen Gresik dan Indocement serta letak pabrik PT. Holcim yang terpusat di pulau Jawa.
3. Bagaimanapun, semen merupakan produk yang bersifat bulky atau mempunyai bobot yang berat, komponen biaya angkut akan tinggi sehingga meningkatkan biaya yang harus ditanggung PT. Holcim.
Opportunities/Kesempatan
1. PT. Holcim Indonesia Tbk. adalah milik dari PT. Holcim Ltd. yang merupakan perusahaan semen terbesar di dunia.
2. Dengan diciptakannya produk – produk yang inovasi, PT. Holcim memiliki kemumgkinan dapat bersaing unggul daripada perusahaan semen semen lain yang ada di Indonesia.
3. Tim Geocycle PT. Holcim menyediakan solusi lengkap untuk limbah industri, kotamadya dan pertanian. PT. Holcim memelopori pembuangan yang aman ozon depleting CFC gas – fasilitas pertama di Asia Tenggara sehingga dapat mengurangi lingkungan dari emisi gas karbon.
4. Potensi bahan – bahan mentah pembuatan semen di Indonesia cukup banyak.
Threats/Ancaman
1. Jangkauan pasar Semen Gresik yang merupakan pesaing dari PT. Holcim yang sangat luas karena mempunyai Semen Gresik untuk pasar Jawa, Semen Padang untuk kawasan Sumatra, dan Semen Tonasa untuk wilayah Sulawesi.

Analisa Strategi Competitive Advantage PT. Holcim, Tbk
A. Strategi Korporasi
PT. Holcim Indonesia, Tbk. (HI) merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi semen bangunan. Produk-produk yang diproduksi oleh HI merupakan produk yang masih berhubungan dengan bahan bangunan, dengan fokus kepada penciptaan semen berkualitas, berupa semen maupun mortar instan, dan perangkat pendukungnya yang umumnya berupa modul-modul blok pengisian semen yang dapat digunakan sebagai pengganti batu bata.
Sebagai perusahaan lama dengan pemilik dan nama brand baru, HI memilih untuk menggunakan strategi korporasi growth. Holcim menggunakan growth strategy karena pasar semen Indonesia masih berpeluang besar untuk berkembang hingga HI berani merencanakan pembangunan pabrik baru di Tuban. Lebih jauh lagi, Holcim menganut baik integrasi vertikal maupun horizontal yang terkonsentrasi. Sebagaimana perusahaan semen lainnya, Holcim memilih untuk berkonsentrasi pada produk semen mengingat semen membutuhkan peralatan yang sangat spesifik dengan investasi yang sangat besar. Vertical strategy dibutuhkan karena diperlukan integrasi yang terkoordinir dari supply hingga marketing, terutama suplai beberapa bahan baku yang membutuhkan penambangan tersendiri dan marketing yang membutuhkan biaya transportasi tinggi. Dalam strategi integrasi vertikal, Holcim memilih untuk menggunakan tipe long-term contract pada material yang dibeli. Namun demikian, ada dua material utama yang menggunakan sistem full supply, yaitu limestone dan clay yang harus ditambang sendiri dari Pulau Nusakambangan. Distribusi semen Holcim juga menganut sistem long-term contract.
Sedangkan integrasi horizontal terjadi karena akuisisi Semen Kujang, Semen Nusantara, dan Semen Cibinong di bawah bendera Holcim, Ltd. Akuisisi ini dilakukan Holcim untuk memperluas jaringan distribusi Holcim ke Indonesia. Menurut Investor Daily edisi 26 Maret 2008, perseroan ini akan mengakuisisi perusahaan semen di Kupang. Berbeda dengan akuisisi Semen Cibinong oleh Holcim Ltd., rencana akuisisi semen Kupang dilakukan Holcim agar dapat mempercepat pertumbuhan usahanya karena pembangunan pabrik semen membutuhkan waktu selama tiga tahun.
B.Strategi Bisnis
Strategi bisnis yang dijalankan oleh HI adalah competitive advantage diferensiasi, sebab Holcim sering menciptakan inovasi produk maupun jasa yang dibuat berdasarkan hasil survey berkala kebutuhan pasar. Oleh karena itulah, walaupun terhitung brand baru di dunia semen Indonesia, Holcim mematok harga yang lebih tinggi rata-rata Rp 1.500,00 per sak semen dari saingannya . Di sisi lain, hutang HI yang sangat banyak mengakibatkan Holcim harus mematok harga tinggi agar dapat segera melunasi hutang tersebut. Menurut Bisnis Indonesia edisi 26 Maret 2008, hutang valas Holcim mencapai US$300 juta atau terbesar dibandingkan dengan utang valas emiten semen lainnya. Rasio utang bersih Holcim adalah 91,07%, Indocement 22,18%, dan Semen Gresik 3,8%.
C. Strategi Fungsional
Strategi fungsional yang diambil HI antara lain:
1. strategi marketing
Strategi yang digunakan oleh Holcim adalah marketing mix. Dalam market development, Holcim berusaha membangun pasar melalui brand building dengan memasang iklan yang memakan biaya hingga Rp 34,91 milyar pada tahun 2006, atau 9 kali lipat biaya iklan semen Tiga Roda milik Indocement. Sedangkan product development dilakukan dengan membangun produk melalui penciptaan produk-produk baru seperti rumah tahan gempa, Semen Serba Guna, dan mortar instan yang merupakan hasil kerja sama Holcim dengan PT Cipta Mortar Utama.
Untuk menjamin produknya tepat sasaran dan sesuai dengan harapan konsumen, Holcim melakukan survey kebutuhan produk secara berkala yang mengakibatkan HI termasuk di antara perusahaan yang menerapkan pull strategi karena hanya menjawab kebutuhan pasar. Uniknya, walaupun tergolong merek baru yang mengusung produk serupa dengan emiten semen lain, Holcim berani memasang harga produknya lebih tinggi, yaitu rata-rata lebih mahal Rp 1.500,00 per sak semen dibandingkan semen lainnya. Hal ini mungkin terjadi karena keperyaan diri HI akan produknya yang dibuat berdasarkan survey pasar tersebut. Di sisi lain, hutang HI yang sangat banyak mengakibatkan Holcim harus mematok harga tinggi agar dapat segera melunasi hutang tersebut. Menurut Bisnis Indonesia edisi 26 Maret 2008, hutang valas Holcim mencapai US$300 juta atau terbesar dibandingkan dengan utang valas emiten semen lainnya. Rasio utang bersih Holcim adalah 91,07%, Indocement 22,18%, dan Semen Gresik 3,8%.
Selain kelemahan dari segi harga tersebut, ada kelemahan lain dari Holcim yang cukup fatal dibandingkan kedua saingan utamanya, yaitu kemampuan jual yang lebih rendah, terutama dalam eksposur penjualan perseroan ke luar Jawa. Dalam hal ini, eksposur penjualan perseroan ke luar Jawa Holcim adalah yang terendah di antara saingan bisnisnya, yakni hanya 10 %, sedangkan Semen Gresik sudah mencapai 50% dan Indocement mencapai 30%. Hal itu terjadi karena kapasitas produksi Holcim merupakan yang terendah dibandingkan Semen Gresik dan Indocement serta letak pabrik Holcim yang terpusat di pulau Jawa. Bandingkan dengan jangkauan pasar Semen Gresik yang sangat luas karena mempunyai Semen Gresik untuk pasar Jawa, Semen Padang untuk kawasan Sumatra, dan Semen Tonasa untuk wilayah Sulawesi. Kapasitas produksi total HI adalah 7,9 ton per tahun, Semen Gresik 18,4 ton, dan Indocement mencapai 16,5 ton per tahun. Bagaimanapun, semen merupakan produk yang bersifat bulky atau mempunyai bobot yang berat, komponen biaya angkut akan tinggi sehingga meningkatkan biaya yang harus ditanggung Holcim.
2. strategi keuangan
Dalam hal ini, Holcim memilih untuk mencari dana melalui peminjaman modal kepada pihak luar dan melalui hasil penjualan produk-produknya. Di luar hutangnya yang sangat banyak, HI mempunyai satu kelebihan dibandingkan Semen Gresik atau Indocement, yaitu kemampuan mengubah penjualan menjadi kas dalam waktu singkat. Holcim mampu mengubah penjualan menjadi kas dalam waktu 61 hari, lebih cepat dibandingkan dengan Semen Gresik yang 76 hari, dan Indocement 106 hari. Dengan demikian, perputaran uang Holcim lebih baik daripada saingan usahanya sehingga Holcim lebih fleksibel dalam menggunakan dananya.
3. strategi resource and development
Secara umum, Holcim menggunakan strategi close innovation. Berdasarkan produk-produknya Holcim tergolong dalam leader technological. Sebab, produk-produk ciptaan HI merupakan produk yang belum ada sebelumnya. Misalnya saja rumah tahan gempa, blok-blok modul rumah tahan gempa yang efektif dan hemat biaya pembangunan, dan juga program terbaru yang diluncurkan Holcim, yaitu program Solusi Rumah Holcim.
4. strategi operasi
Produk-produk HI dibuat melalui continuous production.
5. strategi pembelian bahan baku
Strategi pembelian bahan baku Holcim adalah strategi sole supplier untuk menjamin kualitas suplai mayoritas material. Selain membeli, HI juga menyediakan suplai bahan baku melalui proses penambangan yang dilakukan perusahaan tersebut. Material yang didapat melalui penambangan antara lain limestone dan clay, yang ditambang dari Pulau Nusakambangan. Semua material yang didapat diatur dalam sistem stok. Bahan-bahan yang sudah ditambang atau dibeli dikumpulkan dalam suatu area yang difungsikan sebagai gudang terbuka. Setiap ’gunungan’ material diatur dalam jarak tertentu dan dijaga agar tidak banyak tercampur antara satu dan lainnya.
6. strategi logistik
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, logistik material Holcim menggunakan sistem stok. Demikian pula dengan produk yang siap dijual kepada customer. Awalnya, produk jadi akan disimpan dalam gudang untuk kemudian diatur dan dijadwalkan pengirimannya ke kota-kota lain.
7. strategi pemberdayaan SDM
Holcim mengutamakan skilled labor daripada low skilled labor untuk menjamin kualitas semen yang dihasilkan, terutama para pekerja dan tukang bangunannya. Baik-buruknya kualitas produk semen sangat bergantung pada cara tukang bangunan mengaplikasikan produk Oleh karena itu, bekerja sama dengan Politeknik Negeri Jakarta, sejak tahun 2006 HI menggelar pelatihan kepada para tukang bangunan yang diberi nama Akademi Ahli Bangunan Holcim (AABH) di berbagai kota. Dalam pelatihan tersebut, HI mengasah skill tentang konstruksi dan memberikan pengetahuan yang berkaitan dengan masalah keselamatan serta kesehatan kerja.
Selain mengadakan pelatihan AABH, sejak tahun 2006, Holcim membuka sarana pendidikan setara D III bagi lulusan SMA yang disebut Enterprise based Vacational Education (EVE) yang bekerja sama dengan Universitas Sudirman Purwokerto. Status mahasiswa EVE adalah mahasiswa magang yang belajar selama 5 hari dalam satu minggu, 1 hari class room dan 4 hari praktek lapangan. Dalam EVE, siswa lulusan SMA tersebut diberi pelajaran dan pelatihan mengenai produksi semen. Nantinya, beberapa lulusan yang dianggap layak akan ditarik untuk bekerja di HI.
8. strategi teknologi informasi
Holcim menggunakan server group internal untuk menghubungkan semua pabriknya di seluruh dunia. Untuk lingkup internasional, Holcim menggunakan server group tersebut untuk berhubungan, mengendalikan, dan mencari tahu perkembangan pabrik Holcim di negeri lain, terutama dengan Holcim pusat. Untuk lingkup Indonesia, server group digunakan untuk menghubungkan pabrik-pabrik di dalam negeri, dan bertukar informasi serta mengkoordinir program lintas pabrik Holcim

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar